(image by emersongomespelotas on Canva Studio) Aku bisa betah berlama-lama menulis atau berpikir apa yang akan kutulis atau mengoreksi tulis...

(image by emersongomespelotas on Canva Studio)

Aku bisa betah berlama-lama menulis atau berpikir apa yang akan kutulis atau mengoreksi tulisan atau mencari tahu seluk-beluk tentang tulisan. Aku bisa betah duduk berjam-jam demi menambah satu postingan blog. Lalu mataku segera berbinar-binar jika usaha yang kulakukan telah kutuntaskan dengan baik. Kupikir, ini adalah jalan untukku merasakan cinta berkali-kali. Kupikir, ini adalah bentuk aktualisasi diriku.

Namun, aku juga melihat sesuatu hal yang menyenangkan yang berhasil membuat matamu berbinar-binar. Kamu begitu mencintai ilmu dan berusaha untuk terus mencintai ilmu. Kamu bisa begitu fokus dan tak berkedip menatap layar laptop demi menuangkan segala gagasan yang ada dalam otakmu. Kamu mencoba untuk mengatur segalanya dengan baik, tentu di tengah keterbasanmu. Kamu bisa dengan cekatan pergi ke dapur untuk sekadar menggoreng telur di tengah aktivitas penuh sesak dan ramai di dalam otakmu. Katamu, kamu hobi dan senang masak. Dan tak ingin merepotkanku.

Tanganmu begitu lihai menari-nari di atas keyboard dan mouse untuk melakukan hal-hal yang kamu coba dan senangi. Beratus-ratus potongan gambar sering dituntaskan dengan baik dan cepat untuk hasil video yang ciamik. Berjuta-juta kata mungkin sudah tertulis indah di dalam berkas ajaibmu. Doaku, semoga kamu dan laptopmu senantiasa diberikan keberkahan dan kesehatan.

Semangatmu dalam mencari ilmu juga tak lepas dengan semangat dalam menebarnya. Aku melihat kamu begitu berapi-api, tetapi menyejukkan saat menyemai benih-benih ilmu yang kamu dapati. Aku begitu tahu dan merasakannya; kamu begitu jatuh cinta pada bidang ini! Katamu, kamu ingin menabung ilmu jariyah. Kamu ingin mendapat rida dari Sang Pemilik Cahaya agar hatimu dipenuhi dengan cahaya-Nya. Doaku, semoga Allah hantarkan banyak keberkahan yang mengalir deras di setiap usahamu, langkahmu, kalimatmu, keringatmu. Semoga Allah tinggikan derajatmu.

Selain mencintaimu, aku juga mencintai kegiatanmu. Mataku ikut berbinar-binar ketika matamu berbinar-binar.

Semoga Allah mampukan aku dan kamu dalam menjalani misi-misi kecil yang masih banyak cacat dan perlu tambal sana-sini. Semoga Allah menyelamatkan bahtera kita dari derasnya gelombang hidup, menyelamatkan bahtera kita dari ganasnya lautan yang penuh mimpi dan misteri.

Terima kasih, nakhoda.


Dari istrimu yang banyak sekali kurangnya.

(image by Savanevich Victar on Canva Studio)   Rasanya, baru kali ini tertarik untuk menulis catatan satu tahun perjalanan. Saya tak memanda...

(image by Savanevich Victar on Canva Studio)
 

Rasanya, baru kali ini tertarik untuk menulis catatan satu tahun perjalanan. Saya tak memandang pergantian tahun sebagai sebuah perayaan seremonial, tetapi saya selalu melihat segala hal yang telah dialami dan dirasakan selama satu hari, satu bulan, hingga satu tahun ke belakang—dan kebetulan sekarang berada di penghujung tahun masehi (menjadi sebuah catatan peringatan juga bagi saya karena lebih hafal tahun masehi daripada hijriyah). Semuanya adalah apa-apa yang telah Allah takdirkan untuk saya syukuri dan pelajari.

Tahun ini adalah salah satu tahun penuh batu besar dengan arus sangat deras saat saya melakukan perjalanan. Saya seperti sedang mengarungi sungai; kadang dibuat terlena dengan arus air yang tenang, kadang dibuat waswas karena deras sungai yang begitu menegangkan dan membahayakan. Terlebih di sepanjang jalan, saya banyak menemukan batu-batu besar yang mampu merusak perahu saya, atau bahkan membuat saya tenggelam.

Tahun ini adalah tahun yang membuat saya akhirnya menceklis beberapa mimpi kecil yang saya tulis. Saya kembali dipertemukan dengan seorang musyrifah (yang saya temui tahun lalu) untuk memperdalam ilmu tahsin bersanad, saya juga dipertemukan dengan banyak orang dan diberi kesempatan untuk mengamalkan ilmu yang saya dapatkan. Saya perlahan mulai mengerti tentang membaca Alquran yang baik dan benar setelah sebelumnya, saat SMA, saya menangis tersedu-sedu—dan menyalahkan diri sendiri—karena saya tak mampu membaca dengan benar—meski lancar. Tak mampu membaca sesuai ilmunya, pun sesuai yang telah dicontohkan oleh Rasulullah.

Tahun ini, saya kembali bersemangat untuk menulis—meski secara beramai-ramai. Saya diberi kesempatan untuk menghimpun dan membaca pertama kali tulisan-tulisan keren, yang juga menghantarkan saya pada beberapa kesempatan berbagi pengalaman dan sedikit pengetahuan yang telah saya dapatkan.

Tahun ini, saya mampu melewati sidang proposal penelitian. Kala itu saat menyusun proposal, saya begitu semangat menggebu-gebu. Terasa nikmat saat menyusun karya ilmiah buah pikiran sendiri, saat menemukan dan memecahkan sesuatu sebagai hasil rasa penasaran saya, dan saat melahap beragam referensi buku dan jurnal. Begitu bahagia—meski letih dan lelah—menyusun proposal sebagai bentuk implementasi dari ilmu yang telah saya dapatkan selama di kampus. Saat itu, saya begitu idealis dan optimis.

Tahun ini, saya perlahan dapat membuka tabir tentang pertanyaan dan perjalanan hati. Sekian lama saya menanti, akhirnya Allah bukakan satu pintu sebelum masuk pintu yang lain. Allah beri kunci yang harus saya jaga untuk kemudian bersama membuka pintu yang lain. Saya bahagia. Tentu.

Namun, semua kebahagiaan yang saya dapatkan, juga diberi sepaket berupa kesedihan. Ketika saya merasakan kenikmatan menyusun proposal, saya juga harus sangat bersabar dan kuat melawan trauma saya—yang saat SMA dulu pernah saya rasakan. Takdir dan putusan—yang tentu diberikan oleh Allah—tak hanya membuat saya berjuang menyusun skripsi, tetapi juga berjuang melawan rasa trauma bersifat personal yang sebelumnya tak terduga akan saya alami kembali. Saya takut. Saya menangis tak henti-henti. Semua bayangan buruk yang pernah saya alami kembali terngiang dan sempat terjadi beberapa kali dalam waktu yang belum lama. Saya bingung. Saya ketakutan, tetapi sulit menceritakan kepada orang. Hingga akhirnya, skripsi yang sedang saya susun tak semulus yang saya harapkan. Di saat yang lain sudah berlari, saya masih tertatih-tatih berjalan.

Di perjalanan yang lain, saya kira, pertanyaan dan perjalanan hati saya sudah terjawab dengan tepat. Namun, Allah tangguhkan semua rencana dan harapan yang telah disusun dan dieja dari satu hingga seribu. Saya masih sulit mencari pintu selanjutnya, meski kunci telah saya genggam. Batu besar yang menghalangi dan arus yang begitu deras menjadikan saya cukup kewalahan menjaga kunci dengan baik, terlebih begitu sulitnya pintu yang harus saya temukan.

Di pertengahan jalan, saya harus fokus memperbaiki perahu yang rusak agar saya tidak tenggelam. Saya harus memilih cabang arus sungai ke jalan yang berbeda dari jalan yang direncanakan. Saya harus lebih siaga kalau-kalau kelak bertambah pula rintangan yang menghadang.

Meski bahagia dan sedih adalah respons subjektif perasaan seseorang, saya menjadi belajar untuk bisa menghargai perasaan sendiri. Ketika saya bahagia, saya tak boleh terlena karena arus tak selamanya tenang. Ketika saya merasa sedih, takut, hingga sakit, saya harus sadar bahwa perasaan itu akan menguatkan saya jika saya sikapi dengan baik dan membuat saya lebih siaga melawan rintangan di depan. Meski semua yang terjadi mengharuskan saya kembali menata ulang harapan, rencana, dan jalan yang saya tempuh, saya harus yakin bahwa semua sudah diatur Allah dengan sangat baik dan akan menjadi baik. Meski, saya sedang berhati-hati sekali untuk bermimpi, meski saya dilanda bingung hendak ke mana arah melangkah, saya harus yakin bahwa saya tak pernah sendiri. Allah selalu membantu menerangi jalan, menolong dan menjaga saya di kala arus tenang maupun deras, pun mendengar semua harapan, kesedihan, dan ketakutan.

Jadi, mari mulai kembali, Ikfi.

(image by Mohanraj Suvarna on Canva Studio) Perjalanan  seorang insan dalam mengarungi bahtera kehidupan menjadi sebuah kepastian bagi siapa...

(image by Mohanraj Suvarna on Canva Studio)

Perjalanan seorang insan dalam mengarungi bahtera kehidupan menjadi sebuah kepastian bagi siapa pun yang Allah izinkan hidup. Bahkan, perjalanan dirinya tak hanya berhenti hingga dunia, namun akan terus berlanjut pada kehidupan setelahnya—akhirat.


Saya menyukai travelling. Saya suka jalan-jalan. Saya menghargai setiap perjalanan, baik jarak dekat ataupun jauh. Saya menikmati setiap perjalanan, baik sendiri maupun ditemani. Perjalanan (baik jalan kaki, naik motor, mobil, pesawat, kereta api, ataupun kapal laut) adalah sebuah bentuk aplikasi tauhid. Di dalam prosesnya, ada ujian keimanan yang Allah berikan.

Di banyak perjalanan, qadarullah saya harus pergi sendiri. Kondisinya tidak memungkinkan ditemani oleh siapa pun (tentu orang-orang yang merantau seberang pulau paham betul, kan? Bukan hanya seberang pulau, banyak teman-teman yang bepergian lintas kota ketika pulang dari perantauan ke rumahnya masing-masing, juga sendiri). Ketika kondisinya mengharuskan sendiri, serahkan perjalanan yang akan kita tempuh pada Allah. Ini poin pertama dari tauhid. Berserah hanya pada Allah.

Tentu, ada banyak harapan dari sebuah perjalanan. Ketenteraman, kenyamanan, keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan—yang bermuara pada permintaan perlindungan dan pertolongan. Lalu, pada siapa kita meminta selain kepada-Nya? Tentu, tidak ada satu pun tempat bergantung selain kepada Allah. Inilah poin kedua dari aplikasi tauhid.

Persiapan sebelum perjalanan, mengemas barang, menyiapkan badan untuk tetap sehat, menyiapkan dana, hingga melihat tujuan, jarak tempuh, dan perencanaan transportasi adalah hal lumrah yang banyak dilakukan. Namun, satu bekal yang patut dibawa dan dijaga selama perjalanan adalah takwa—melaksanakan semua yang diperintahkan Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Dengan takwa, Allah menjaga kita dari gangguan dan marabahaya. Dengan takwa, kita tidak melupakan adab di setiap kesempatan. Dengan takwa pula, Allah yang menjadikan perjalanan kita sarat akan kebaikan dan keberkahan.

 

Kemarin, kini hingga nanti, tiap-tiap diri kita adalah musafir. Pergi dan berhenti pada perjalanan sendiri-sendiri. Mulai dan berakhir pada waktu sendiri-sendiri.

Semoga kita selamat dalam perjalanan, juga selamat pada akhir perjalanan kita.

(image by Rubenstein Rebello on Canva Studio) Akhir-akhir ini, jagat media sosial diriuhkan dengan kabar kabut asap di bumi Lancang Kuning, ...

(image by Rubenstein Rebello on Canva Studio)


Akhir-akhir ini, jagat media sosial diriuhkan dengan kabar kabut asap di bumi Lancang Kuning, Melayu Riau. Kualitas udara di Provinsi Riau telah dinyatakan oleh BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) berada di level tidak sehat hingga bahaya. Seluruh masyarakat mendadak memakai masker demi terjaga dari menghirup udara berbahaya—meski hal itu hanya meminimalisasi akibat. Jarak pandang pun semakin menurun. Apakah semua hal ini merupakan kasus baru? Tentu saja tidak!

Saya begitu ingat ketika tahun 2014 lalu, keluarga saya di Pekanbaru mengabarkan kondisi udara yang mengejutkan. Asap begitu pekat menyelimuti kota, udara begitu sesak dan perih di mata. Saat itu, seluruh siswa sekolah diliburkan hingga hampir dua bulan lamanya. Berita yang sedang ramai diperbincangkan saat ini, bukanlah baru saja terjadi lagi di Provinsi Riau. Pada tahun-tahun sebelumnya, kabut asap masih ‘bermain’ meski tak begitu nakal mengganggu kehidupan warga.

Hampir seminggu yang lalu, mama memberi kabar kualitas udara di Riau mulai memburuk dan asap mulai kembali datang. Secara berkala, saya cek kondisi udara melalui aplikasi air visual yang menunjukkan angka 300-400 bermakna sangat tidak sehat hingga berbahaya. Kian hari, kualitas udara semakin memburuk hingga menembus angka 500! Sangat mengkhawatirkan. Akhirnya pada tanggal 9 September lalu, Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Riau mulai menginstruksikan kepada seluruh kepala sekolah untuk meliburkan siswanya.

Saya begitu geram dan sedih mengetahui kabar buruk ini. Kemarin, saat banyak daerah di Pulau Jawa yang mengalami mati listrik seharian dan saat kualitas udara di Jakarta masuk dalam level ‘tidak sehat’, masyarakat Indonesia dan media massa berbondong-bondong menggiring kabar hingga masuk dalam trending topic yang paling hangat dibicarakan. Namun, hari pertama saat saya mulai mengetahui kondisi udara di Provinsi Riau, hanya ada satu-dua media daring yang memberitakan kabar ini. Padahal saat itu, saya sedang berusaha mencari kabar terkait respons pemerintah menanggapi kasus kabut asap. Namun hasilnya? Nihil. Kabar kabut asap yang terjadi di Riau (dan Kalimantan) baru hangat diperbincangkan dua hari yang lalu, itu pun diperkuat dengan aksi demo mahasiswa Riau—yang mungkin menjadi lebih menarik saat dikabarkan terdapat dua mahasiswa yang pingsan saat demo di tengah kabut asap. Kemarin, muncul pula petisi yang ditujukan kepada Presiden, Menteri Kementrian Hidup dan Kehutanan (KLHK), Menteri Pertanian, Menteri Kesehatan, dan Gubernur Riau. Petisi tersebut menuntut empat poin terkait kasus kabut asap yang terjadi di Riau.

Ada hal yang membuat kami bertambah sedih. Pemberitaan kabut asap mulai tenggelam diberitakan oleh para media daring. Nampaknya, kasus KPK jauh lebih hangat, renyah, dan keren dibicarakan. Saat gubernur Riau dikabarkan justru pergi ke Thailand, presiden Indonesia pun terlihat belum banyak angkat bicara terkait solusi yang ditawarkan. Atau, apakah media yang memang begitu fokus menayangkan kesibukan pemerintah negara terkait revisi Undang-Undang KPK atau terkait KPK yang ganti pimpinan? Bagaimana kabar masyarakat yang terkena dampak darurat asap, apakah harus menunggu lebih banyak korban?

Selama kurun waktu tahun 2019 (Januari-September), sebanyak 281.626 warga terkena Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) berdasarkan data yang diambil oleh Dinas Kesehatan Riau. Tentu, tak mustahil akan menambah lebih banyak korban karena Riau disebutkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi daerah dengan kebakaran gambut terbesar pada tahun ini. Tak tanggung-tanggung, lahan gambut yang terbakar (dan dibakar) mencapai 40 ribu hektare. Ditambah sedang musim kemarau panjang, akan sangat sulit memadamkan titik api yang begitu luas. Terlebih, kebakaran hutan yang terjadi di lahan lambut memiliki karakteristik yang berbeda dari kebakaran hutan di lahan kering. Meski api dipadamkan dan tanah bagian atas sudah kering, bagian bawah lahan gambut tersebut relatif masih basah dan lembap. Jika terjadi kebakaran hutan, kobaran api tersebut akan bercampur dengan uap air di dalam gambut dan menghasilkan asap yang sangat banyak (Adinugroho dkk. dalam Pinem, 2016: 142).

Kabut asap terjadi tentu karena ada pembakaran lahan besar-besaran. Merujuk pada tagar yang digaungkan oleh masyarakat Riau, #RiauDibakarBukanTerbakar semestinya menjadi bahan evaluasi bagi seluruh jajaran aparatur negara. Aparatur negara memang perlu lebih ‘galak’ dengan para korporasi pemilik lahan dan lebih tegas memberlakukan hukum.

Jika saja ibu pertiwi mampu menunjukkan tangisnya, kini ia tengah merintih sakit dan menangis lirih terhadap semua keserakahan manusianya. Jika saja ibu pertiwi mampu bersuara, dengan sedih ia tentu berkata, “Riauku tersayang, Riauku yang malang. Bahasa indukku berasal dari daerahmu. Tempatmu menjadi pusat perkembangan budaya dan sastra Melayu. Kota bertuah, kini berisi asap penuh melimpah. Semoga yang sesak dan pekat berganti segera menjadi sehat dan kuat.”

Semoga, perlahan Allah bereskan semua masalah dalam negeri, menjadi negeri berdikari yang diberkahi, aman, lagi tenteram.

(Ditulis Sabtu, 14 September 2019)

___________________________

Referensi:

Pinem, Tanda. 2016. Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut: Kajian Teologi Ekofeminisme. Gema Teologika Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian. 1. 139. 10.21460/gema.2016.12.219.

Petisi https://www.change.org/p/gubernur-riau-jokowi-tunaikan-janji-mu-untuk-hentikan-asap-di-riau

http://riaupos.co/208352-berita-sudah-281626-warga-riau-terkena-ispa.html

(image by monicore on Canva Studio) Untukmu yang tengah berada di persimpangan dan belum juga memulai (kembali) perjalanan. Sayang, ada bany...

(image by monicore on Canva Studio)

Untukmu yang tengah berada di persimpangan dan belum juga memulai (kembali) perjalanan.

Sayang, ada banyak hal yang kamu temui dalam hidup. Orang-orang, jalanan, bangunan, binatang, pohon-pohon, hingga kejadian-kejadian. Seluruhnya adalah takdir yang telah digariskan untukmu. Allah telah mengizinkan kamu dan mereka bertemu.

Sayang, tak semua perjuanganmu berjalan lancar tanpa aral. Kamu tidak hanya belajar dari dirimu sendiri, melainkan kamu bisa belajar dari semua orang di sekelilingmu. Tanggalkan ego, lupakan gengsi. Kamu berhak memiliki hati yang baik untuk menyerap semua pembelajaran hari ini, kemarin, esok, dan seterusnya. Kamu berhak memiliki hati yang bening untuk lolos ujian hidup. Ingatlah Sayang, Allah menunggu usahamu.

Sayang, di antara semua dugaan yang kamu pikir dan cermati dalam-dalam, tak semua menjadi baik untukmu. Hilangkan praduga buruk yang akan membawamu jatuh semakin dalam. Undanglah semua hal baik dalam hidupmu; pikiranmu, lisanmu, dugamu, hatimu. Ingatlah Sayang, tak ada nasib buruk dalam hidup jika kamu terima dengan baik sebagai bukti imanmu terhadap takdir.

Aku tahu, percaya pada manusia tak sedikit menimbulkan kecewa. Tapi bukankah Allah telah mempercayakan jiwa seorang kamu dalam ragamu? Tak bosan kuingatkan ini padamu. Jadi, mohon dijaga baik-baik ya.


Tertanda,
Aku yang juga dirimu

(image by Daria Shetsova on Canva Studio) Aku mencintaiku. Aku mencintaiku adalah aku yang akan memikirkan dan mengupayakan semua kebaikan d...

(image by Daria Shetsova on Canva Studio)

Aku mencintaiku.

Aku mencintaiku adalah aku yang akan memikirkan dan mengupayakan semua kebaikan dan keberkahan menujuku.

Aku mencintaiku adalah aku yang akan merawat kesehatanku dan ‘kewarasanku’ dengan memaksimalkan semua potensi yg telah Allah berikan padaku.

Aku mencintaiku adalah aku yang akan merawat diriku dari segala ancaman penyakit hati.

Aku mencintaiku adalah aku yang berupaya menjadi hamba yang Allah mau.

Wahai aku, jalan hidupku adalah jalan terbaik yang telah Allah sediakan. Orang di sekelilingku adalah orang-orang pilihan-Nya yang telah Allah berikan.

Tak semua yang mereka ucapkan adalah baik untukku; ambillah semua yang baik untukku, lupakan semua yang buruk bagiku.

Tak semua jalan akan mulus dan lurus; lewatilah jalanku dgn baik dan mintalah pertolongan hanya pada satu: Allah.

Diriku hari ini adalah hasil perjuanganku hari-hari yang lalu. Maka selamat! Allah telah membantuku menyelesaikan satu demi satu rintangan pada waktu yang lalu.

Aku menghargai semua usahaku hingga saat ini. Belum maksimal? Tidak mengapa. Mari kita coba lagi.

Percayalah wahai aku, Allah telah menitipkan amanah jiwa dan ragaku untuk menjadi seorang ‘aku’. Jangan sia-siakan hidupku di dunia untuk hidup selamanya di akhirat, ya.

Selamat mencintai diri sendiri!

(image by DimaBerkut on Canva Studio) Menjadi seorang putri sulung dari ketiga bersaudara cukup membuat beban bagi saya. Sebenarnya lebih te...

(image by DimaBerkut on Canva Studio)

Menjadi seorang putri sulung dari ketiga bersaudara cukup membuat beban bagi saya. Sebenarnya lebih tepatnya, Allah telah mempercayai amanah berat tersebut untuk saya sebagai contoh dari dua adik saya. Anak sulung adalah harapan pertama dari sepasang hamba-Nya yang Allah takdirkan bersatu dengan janji suci ikatan pernikahan. Anak sulung adalah buah kasih yang paling ditunggu kehadiran dua insan. Anak sulung adalah anak yang ditakdirkan lebih dahulu lahir dari adik yang lahir setelahnya.

Hakikatnya, semua anak memiliki hak dan kewajiban yang sama. Mereka memiliki fungsi dan peran masing-masing dalam sebuah keluarga. Pun sama halnya dengan anak kedua, ketiga, keempat, hingga anak bungsu. Mereka adalah mutiara yang Allah berikan kepada orang tua sebagai amanah, juga mereka memiliki amanah yang dipikul sama dari kedua orang tuanya.

Sejak kecil, ayah selalu mendukung dan membimbing anak-anaknya untuk bersungguh-sungguh mencari ilmu di sekolah. Prestasi-prestasi yang didapatkan dari anak-anaknya tidak lepas dari kesabaran dan keuletan sang ayah dalam membimbing dan ikut mengajarkan materi-materi khusus dalam perlombaan. Sang mama, memiliki peran penting sebagai penenang, peneduh, dan penyemangat anak-anaknya. Ketentraman yang dimiliki seorang ibu dan motivasi kuat yang ditanamkan oleh seorang ayah mampu membuat anak-anaknya mendapatkan dua hak yang seimbang dari kedua orang tuanya; tidak hanya pemenuhan kebutuhan materi, tapi juga pemenuhan kebutuhan batin.

Satu hal yang paling diingat sebagai motivasi terkuat hingga saat ini adalah tentang pemaknaan seorang Ikfi Nursyifa Arridla yang telah diberikan dengan penuh suka cita oleh kedua orang tua saya. Sejak saya TK (atau mungkin sebelum TK), ayah sudah memberi tahu arti tiap-tiap kata dari nama saya yang secara garis besar adalah sebuah doa agar Allah cukupkan saya dengan cahaya obat/syafa’at yang Alah ridai (baik untuk di dunia, maupun kelak di akhirat). Saat itu, ayah dengan nada penuh harap berkata, “Kamu itu Syifa. Jadilah obat hati untuk kedua orangtuamu.” Ayah juga pernah menambahkan, katanya, “Kamu adalah anak pertama yang diharapkan oleh ayah dan mama dan saat itu kamu menjadi pelipur lara kami. Tetaplah menjadi pelipur lara, penenang hati kami meski kamu sudah besar.” Sungguh, ucapannya berhasil terngiang-ngiang dalam kepala dan menjadi cambuk otomatis yang tiba-tiba hadir saat saya jatuh dan putus asa dalam perjalanan menuntut ilmu serta menjalani lika-liku jalan kehidupan. Sama halnya dengan sang ayah, seorang mama juga menaruh harapan bagi putri sulungnya ini. Meski ia tak mampu berkata-kata bijak seperti ayah, sentuhan lembut dan kasih sayangnya mampu menjangkau hati sang anak dan memeluk erat dengan doa yang begitu kuat. Satu hal yang cukup unik dari cerita mama saat mengandung saya dulu adalah ia sempat melihat seorang anak perempuan yang tampil di sebuah acara televisi dengan membawakan sebuah puisi yang begitu indah. Kata mama, anak perempuan tersebut bernama Syifa. Dari sana, mama ingin memiliki anak yang sepandai Syifa dalam membacakan sebuah puisi—dan qadarullah saat SD pernah beberapa kali menjuarai lomba baca puisi, dan saat ini saya dihantarkan oleh Allah ke sebuah perguruan tinggi untuk menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu sastra.

Saya begitu dekat dengan mama yang selalu menjadi tempat berbagi dalam banyak hal. Saya juga dekat dengan ayah dan selalu menjadi tempat diskusi banyak hal. Kami selalu bertukar pikiran dan perasaan–terlebih ketika saya mulai beranjak dewasa. Dalam sebuah diskusi keluarga saat saya masih kelas 3 SMP, timbul satu keinginan kedua orang tua untuk putri sulungnya: melanjutkan sekolah di Jawa Barat. Saat itu, atas izin Allah kami tinggal di Pekanbaru (meski berdarah Sunda) karena pekerjaan orang tua. Pada saat keinginan itu terucap, saya sempat berpikir banyak hal hingga akhirnya menyetujui keinginan mereka.

Tidak ada maksud buruk sedikit pun yang terlintas dari pikiran dan hati orang tua saat anaknya dikirimkan­ jauh menuntut ilmu dari jarak tinggal mereka. Saat itu, tidak ada yang terlintas dalam benak saya selain berbakti kepada orang tua dengan menuntut ilmu sekalipun harus jauh menyebrangi lautan melintasi banyak provinsi; terpisah di antara dua pulau. Setingkat usia kelas 3 SMP yang saat itu masih terbilang polos, saya memberanikan diri (atau nekad) terbang ke Jawa Barat sendirian. Saat itu, saya belum memiliki tujuan khusus akan sekolah SMA di mana (karena hasil tes di salah satu MA (Madrasah Aliyah) favorit se-Indonesia belum keluar). Dengan bermodal yakin dan pasrah, saya pergi ke tanah kelahiran dan tinggal sementara di rumah nenek. Lika-liku perjuangan mencari Sekolah Menengah Atas begitu sulit, terlebih saat saya dinyatakan tidak lulus pada hasil tes di salah satu MA favorit itu. Beberapa pesantren yang saya kunjungi juga tidak berhasil menjadi pilihan dan takdir untuk saya. Saat itu, saya pasrah. Saya ikhlaskan dan kembalikan semuanya pada Allah, saya atur ulang niat saya dengan harapan penuh bahwa saya akan mendapatkan banyak hikmah belajar di daerah ini. Qadarullah, saya akhirnya berjodoh dengan salah satu Madrasah Aliyah yang ternyata jaraknya tidak begitu jauh dari rumah nenek. Perjalanan dimulai. Petualangan dimulai. Hidup jauh dari orang tua dimulai. Manis-pahit kehidupan dimulai dengan beragam ujian dan tantangan yang menuntut saya mampu menyelesaikannya sendiri (tentu dengan melibatkan Allah). Saat itu, saya banyak menyelami lautan hikmah, termasuk tentang proses hijrah mengenal Allah lebih dekat (dari mulai pakaian, pemahaman, hingga ilmu keagamaan). Di sana, Allah kirimkan orang-orang yang sangat luar biasa sebagai perantara mengenali-Nya. Allah kirimkan orang-orang sebagai penguat, penasihat, dan pengingat di jalan-Nya. Hingga pada suatu waktu, saya menangis lirih -merindukan kedua orang tua- dan ingat perjuangan mereka. Terlebih saat itu, saya merekam jelas eskpresi seorang ibu saat melepaskan putri sulungnya pertama kali, jauh dari dekapannya…

Ma, aku tahu bahwa melepaskan putri sulung jauh darimu beribu-ribu kilometer adalah hal berat dalam hidupmu.

Aku ingat empat tahun lalu pukul empat dini hari, seorang bidadari berdiri tegar di depan pintu rumah dengan pipi basah dan mata berkaca-kaca. Mengecup, memeluk, dan mendoakan kebaikan anaknya.

Ma, aku tahu bahwa ketika putri sulungmu melangkah keluar pagar rumah untuk pergi, hatimu berteriak ingin menahan. Namun keyakinanmu yang penuh bahwa Allah Sang Maha Penjaga mengalahkan ego dan perasaanmu. Menitipkan putri sulungmu pada Allah dengan sebaik-baik penjagaan. Lalu aku melihat senyummu, tegarmu, dan ikhlasmu.

Ma, aku bisa merasakan doa-doa panjang yang selalu terlafal dari riak tangismu. Aku bisa mendengar betapa syahdunya doamu bergetar menembus langit. Kebaikan-kebaikan yang Allah berikan pada putri sulungmu tidak terlepas dari doa-doa tulusmu.

Ma, rida Allah sangat tergantung dari ridamu. Ada surga dalam dirimu, ada rumah dalam pundakmu, ada hangat dalam pelukmu, ada harapan dalam matamu. Mama, semestanya rindu.

Semoga Allah senantiasa menjagamu, memberkahi hidupmu.

Suka-duka dalam menjalani kehidupan—terlebih menuntut ilmu—membuat saya bersabar dan bersyukur. Bagi saya, perjuangan ini menjadi jalan bakti saya untuk kedua orang tua saya. Menuntut ilmu agar Allah berikan ilmu yang bermanfaat, menuntut ilmu agar Allah sematkan hidayah pada hati saya untuk menjadi hamba kecintaan-Nya, menuntut ilmu untuk meraih rida kedua orang tua saya, menuntut ilmu untuk mengangkat derajat kedua orang tua saya, menuntut ilmu untuk menjadi manusia bermanfaat, namun yang paling penting dari semua hal tersebut adalah menuntut ilmu karena perintah Allah; menyelami ilmu-ilmu Allah untuk meraih hakikat ilmu yang sesungguhnya, yakni mengenal Allah lebih dekat.

Dari perjalanan belajar ini, saya perlahan mulai memahami lebih dalam tentang pondasi utama seorang insan yakni iman dan Quran. Berbakti kepadamu wahai ayah dan mama, adalah tentang kesyukuran saya selaku anakmu atas hasil didik dan ridamu. Adalah tentang kesyukuran pada anugerah terindah yang Allah berikan berupa dirimu yang begitu sabar menjaga amanah-Nya. Maka izinkanlah saya beserta anak-anakmu yang lain untuk bisa memberikan hadiah terindah di akhirat kelak atas hasil iman dan kedekatan Quran yang tak lepas dari lantunan doa dan ridamu. Semoga Allah membantu kami..

Menghidupkan mimpi yang kian mendekat dan didekatkan. Aku melihat dua pasang mata yang ikut tersenyum dan menangis. Di sela air matanya yang jatuh, aku mendengar dengan telingaku yang sering tuli, ada bait-bait doa yang melangit meski raganya sujud menyentuh bumi. Tuhan.. tegakkanlah raganya hingga waktu kian menggerus sisa umur yang tersedia. Aku masih ingin melihat dua pasang mata itu tetap dan terus tersenyum, berkali-kali, bahkan selamanya.

Di kerumitan jalan dengan mataku yang sering buta, aku melihat ada dua insan yang berpayah-payah mempertahankan, memperbaiki jalan kehidupan. Menjagaku dengan sebenar-benar penjagaan, meski jarak antara raga kami berjauhan.

Dengan mulutku yang sering bisu, ada maaf dan terima kasih yang tak kunjung selesai terucapkan lewat doa yang disemogakan.

Maafkan atas ketulian, kebutaan, dan kebisuanku, tapi percayalah, ada hati yang selalu kurawat dan kuperbaiki setiap hari, langsung kepada Yang Menciptakan—dengan mimpi, harapan, prasangka baik, dan ayat-ayat-Nya. Menyiram, menghidupkan.

Semoga Allah senantiasa menghidupkan dan membersihkan hatiku, juga pemilik dua pasang mata yang indah itu,

Ikhlasmu, relamu, doamu, dan ridamu adalah bekal bagiku. Agar Allah pun rida..

Dan semoga dapat selalu menjadi penyejuk mata dan hatimu dari seorang aku. Seorang nama yang engkau beri dengan “obat” dan “rida”. Sehat terus, Ayah dan Mama.

 

Anakmu,

Ikfi Nursyifa Arridla.

 

(ditulis tahun 2017)

(image by Porapak Apichodilok on Canva Studio) Di antara sekian banyak orang mendefinisikan kata ‘bahagia’, hanya satu makna bahagia secara ...

(image by Porapak Apichodilok on Canva Studio)

Di antara sekian banyak orang mendefinisikan kata ‘bahagia’, hanya satu makna bahagia secara abadi; ia langgeng menghias hati di dunia, terpuas diri di surga. Kamus Besar Bahasa Indonesia pun berkata, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Maka tentu, bahagia tak hanya diukur dari materi dan semua yang tampak; ia dirasa dari hati, diberikan oleh yang memiliki.

Jika bahagia adalah kekayaan, berapa banyak orang yang memiliki mobil, tapi sang istri justru tiap hari berada di samping sopir, sedangkan suami tak membersamai? Jika bahagia adalah rumah mewah, berapa banyak orang yang terbaring sakit bukan di kamar indahnya? Jika bahagia adalah kepintaran, berapa banyak orang pintar yang justru masuk sel jeruji penjara?

Jadi, bagaimana bahagia bekerja?

Kalau saya ditanya, ‘bagaimana agar kamu bisa bahagia?’, maka saya menjawab: Ya dengan berbahagia!

Dua kunci yang telah Allah berikan pada semua hamba-Nya tentang menjalani hidup adalah sabar dan syukur. Keduanya adalah paket lengkap yang patut dipegang dan dimiliki oleh semua Muslim. Di dunia ini, Allah hanya memberi kita satu keadaan, yakni ujian. Ujian-ujian tersebut diberikan dalam bentuk kesenangan dan kesusahan. Tinggal kita menjalani ujian tersebut dengan baik, berhasil atau gagal?

Menjadi yang paling bahagia adalah menjadi orang yang disebut baginda Rasul sebagai Mukmin yang urusannya begitu mengagumkan. Semua perkara dalam hidupnya adalah kebaikan untuknya. Keadaan senang menjadi baik baginya, keadaan susah pun menjadi baik baginya. Bagaimana cara mendapatkannya?

“…dan tidaklah didapatkan pada seorang pun hal tersebut melainkan pada diri seorang mukmin, jika ia merasakan kesenangan maka ia bersyukur, dan itu lebih baik baginya. Bila kesusahan menerpanya maka ia bersabar, dan itu lebih baik baginya.” (HR Muslim)

Lalu, bagaimana sabar dan syukur dapat bekerja?

Ia hadir dari hati yang rida terhadap ketentuan Allah. Yakinnya kokoh pada Sang Pencipta; pengatur segala urusan. Aktivitasnya adalah ibadah sebagai hamba. Cintanya terpaut pada Sang Pemilik Semesta. Dirinya adalah milik Tuhannya. Maka satu-satunya yang ia cari adalah rida Tuhannya.

Wahai kamu, berbahagialah dengan bahagia!

Istilah Gen M dipopulerkan oleh Yuswohadi dan kawan-kawan dalam tulisannya berjudul  Gen M: Generation Muslim, Islam itu Keren . Meski bagi ...



Istilah Gen M dipopulerkan oleh Yuswohadi dan kawan-kawan dalam tulisannya berjudul Gen M: Generation Muslim, Islam itu Keren. Meski bagi sebagian yang lain, Gen M juga dapat dimaknai sebagai Generasi Milenium (milenium, bukan milenial. Milenium adalah kata baku dari milenial. Hehe). Saya sendiri tahu istilah Gen M bermakna Generasi Muslim baru akhir-akhir ini –bahkan lebih tahu secara jelas saat ikut talkshow Crown yang diadakan oleh kemuslimahan Unpad kemarin.

Gen M memiliki karakteristik yang telah ditulis dan dijabarkan oleh banyak penulis; temasuk dikaitkan dengan sejarah dan kondisi islam di Indonesia sejak zaman dahulu kala. Namun, di antara sekian banyak definisi terkait Gen M, saya memiliki simpulan sendiri yang tak sedikit saya dapatkan dari acara talkshow kemarin (ngomong-ngomong, pematerinya adalah Nabila hayatina, Karina Hakman, dan dr. Davrina). Generasi Muslim adalah orang-orang yang taat pada Allah dengan menggunakan landasan Quran dan Sunnah, pun meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai manusia terbaik sepanjang zaman. Sesimpel itu? Ya! Dengan segala perkembangan zaman beserta perangkat teknologi yang semakin canggih, generasi muslim mampu masuk dalam perkembangan zaman sebagai pengguna dan pengendali; pionir bukan pengikut. Tentu tak lain sebagai tugas utama di bumi yakni khalifah dan memiliki korelasi yang erat dengan islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Terus selanjutnya, apa yang harus kita lakukan?

Islam mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan; baik hidup di dunia maupun hidup di akhirat. Dunia dan akhirat adalah anugerah dari Allah, pun keduanya adalah mutlak milik Allah. Dalam aplikasinya, islam tidak mengajarkan selama 24 jam kita harus berdiam diri di masjid, tilawah dan salat tiada henti. Bukan. Kita justru dituntut untuk punya prestasi, gengs! Prestasi apa? Prestasi dalam bentuk amalan shalih yang bermanfaat untuk orang banyak, dijalankan secara profesional, dan berkah. Amalan apa? Amalan apa pun! Amalan yang diwujudkan dalam kemampuan-kemampuan kita di bidang yang kita sukai. Amalan yang dihasilkan dari ilmu-ilmu yang kita pelajari selama sekolah dan kuliah. Amalan-amalan inilah yang sangat bersesuaian dengan sabda Rasul, bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Berprestasi dengan bermanfaat, tentunya dapat diawali dari hal kecil sekali pun. Hal-hal kecil yang dilakukan ikhlas dan terus-menerus, hasilnya akan terkumpul meninggi hingga melangit. Di bumi ia dicintai, di langit ia dijunjung tinggi. Keren banget, kan! Tapi ternyata gengs, ada juga prestasi dengan amalan-amalan yang bisa terputus dari rahmat Allah. Prestasi tersebut tidak membawa berkah atau kebaikan yang berlipat-lipat bahkan untuk dirinya sendiri. Mengapa? Karena amalan yang dilakukan tersebut terputus dari niat karena Allah. Amalan tersebut tidak menyertakan Allah saat melakukannya. Makanya, mulai saat ini, saat hendak melakukan apa pun dalam aktivitas kita, sertakan “bismillah” dan niat “cukup buat Allah aja”. Dunia milik Allah, kita milik Allah, dan kita kembali pada Allah. Dengan begitu, segala aktivitas kita akan menjadi ibadah untuk kita!

Maka Gen M sebagai muslim di zaman milenium, adalah mereka yang berdiri, berjalan, hingga berlari menjejakkan kaki di bumi dengan iman di hati, berprestasi menebar manfaat dari ujung hingga tepi. Mereka yang berperan dalam peradaban sebagai generasi rabbani.