Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

(Image by Pixelci on Canva Studio) Ini bermula dari sebuah akun anonim (bukan fufufafa, bukan pula Chilli Pari), yang mengirim beberapa sura...

(Image by Pixelci on Canva Studio)

Ini bermula dari sebuah akun anonim (bukan fufufafa, bukan pula Chilli Pari), yang mengirim beberapa surat kaleng pesan teks dengan tendensi merendahkan mengingatkan sehingga membuat saya sedikit berpikir. Salah satu isinya adalah sebuah kalimat bahwa kegagalan merupakan sebuah aib, yang pantas dikasihani hingga bahkan (pantas) menjadi bahan tawa dan olokan. Sebuah bentuk kepedulian ini (akhirnya) menjadi ladang syukur bagi saya karena... bukankah jika saya yang gagal lalu mereka tertawa, sayalah yang justru mendapat pahala karena telah menghibur mereka? Tapi, bukankah kata orang-orang, kegagalan adalah sebuah kesuksesan yang tertunda, ya? 

Sebelum jauh membahas hal ini, saya iseng untuk kembali membuka KBBI (wkwk) guna mencari tahu makna gagal. Di dalam kamus, gagal adalah tidak berhasil; tidak tercapai (maksudnya), tidak jadi. Berarti, kegagalan adalah ketidakberhasilan seseorang dalam mencapai sesuatu yang ditujunya. Kalau begitu, bukankah semua orang di dunia ini pernah gagal dan mungkin akan berlomba menjadi peraih trofi nomor satu sebagai pribadi yang memiliki kegagalan dengan jumlah terbanyak?

Lagi, sebelum jauh membahas siapa sang juara peraih trofi itu, mungkin kita sepakat bahwa "kegagalan" pun ada versi dan tingkatannya. Kita gagal membuat kue untuk camilan, tidak sama dengan gagal membuat kue untuk jualan. Kita gagal mendapat nilai di atas KKM dalam ujian kenaikan kelas, tidak sama dengan gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi. Semua bergantung kebutuhan, tujuan, dan seberapa besar pengaruhnya terhadap keberlangsungan hidup kita (meskipun ujung-ujungnya tetap hidup juga toh meski terseok-seok?). Kalau begini simpulannya, saya yakin, semua manusia di dunia ini adalah juara satu peraih trofi kegagalan terbanyak karena tiap-tiap dari mereka pasti memiliki ujian sesuai versinya. Untukmu ujianmu, untukku ujianku.

Saya kemudian bertanya-tanya, jika kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, itu bermakna kita akan "sukses" pada waktunya, bukan? Namun, kalau tujuan yang kita capai (sebut saja A) tak pernah kita raih seumur hidup, apakah itu berarti akan dicap sepenuhnya gagal? Apakah ini yang akhirnya muncul sebuah label bahwa gagal merupakan aib atau ketidakberdayaan diri atau kecacatan diri? Tapi, bukankah memang manusia tak lepas dari khilaf~

Seiring berjalannya waktu, menambah pengalaman, juga menambah kegagalan, saya seperti diberi banyak pelajaran dari Allah untuk mengenal istilah lain dari gagal. Saat saya belum atau bahkan tidak berhasil, saya perlahan bisa bergumam, "Oh, mungkin bukan jalannya," atau, "Oh, mungkin bukan takdirnya," atau, "Oh, mungkin bukan jodohnya." Lalu ditutup dengan kalimat, "Pasti ada jalan lain, pilihan lain, yang telah Allah siapkan sebagai jawaban terbaik," meski sambil-bersusah-payah-meyakinkan-diri-sendiri—karena salah satu bagian tersulit dalam menjalani hidup adalah selalu berhusnuzan pada Pemilik kehidupan, bukan? Setelah itu, perlahan belajar untuk (akhirnya) lebih enteng mengucapkan, "Oh, ya udah," meski sebelumnya sempat gedebag-gedebug lebih dulu.

Hal paling penting dari gagal-kegagalan ini adalah ketenangan terhadap sebuah fakta bahwa kegagalan-kegagalan yang kita alami, setidaknya, tidak merugikan orang lain. Toh, kita bukan gagal nyaleg dengan modal uang panas~ Gagal dan sukses dalam tiap-tiap hidup kita pun, berbeda-beda. Seperti pepatah lumrah yang biasa kita dengar, "Kita tidak sedang berlomba dengan orang lain. Hakikatnya, kita berlomba dengan diri sendiri, sedang berjuang untuk menjadi lebih baik daripada kemarin." Untuk lebih menenangkan jiwa raga, mungkin perlu ditambah pepatah, "Kalau orang lain bisa, kenapa harus aku?" Huehehe

Karena kita sedang berjuang (dan senantiasa belajar) untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada pribadi pada hari-hari yang lalu, saat kegagalan itu menyapa, kita (mungkin) bisa lebih ikhlas dan tawakal karena kita telah mengerahkan kemampuan terbaik dalam setiap-semua ikhtiar. Ya, setidaknya, berubah dari pribadi yang jelek banget menjadi jelek aja juga sebuah usaha dalam berhijrah, kan? 

Untungnya, bumi masih berputar. Kegagalan-kegagalan kemarin masih bisa kita rayakan dengan perbaikan diri; kegagalan-kegagalan yang bisa kita tangisi dan tertawakan, lalu lanjut jalani hari. Namun, yang terpenting, semoga kita semua kelak selamat dari kegagalan di akhirat karena di sanalah satu-satunya bukti yang mematahkan kalimat, "Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda." 
Ya Allah, mohon lindungi dan jaga kami selalu.—




Curcolan ini sepenuhnya sebagai pengingat dan penghibur untuk saya saat ini,
juga untuk saya di masa depan.

(image by Mihailo Karanovic on Getty Images) Beberapa bulan lalu, begitu ramai orang membuat (dan mengunggah ulang) video di media sosial de...

(image by Mihailo Karanovic on Getty Images)

Beberapa bulan lalu, begitu ramai orang membuat (dan mengunggah ulang) video di media sosial dengan satu konten yang sama. Kalimatnya rata-rata serupa: "Telat inilah, telat itulah, mari kita mulai masa remaja di usia 30 tahun," untuk orang yang sudah masuk di kepala tiga. Atau diganti dengan "di usia 25 tahun" untuk orang yang sudah masuk usia seperempat abad. Dan sebagainya, dan sebagainya. 

Memasuki masa-masa quarter life crisis memang menimbulkan beragam pertanyaan dan perbandingan tentang kehidupan; tentang karier, kehidupan sosial, ataupun hubungan relasi. Di usia-usia ini, ada banyak orang yang sudah mendapatkan sesuatu yang mereka harapkan, tetapi tidak sedikit pula orang yang merasa stuck dan sulit mencapai mimpi-mimpinya. Di usia-usia ini, ada orang yang sudah menyebarkan undangan hingga menimang buah hati, tetapi tidak sedikit pula orang yang masih kebingungan dengan jodohnya; bahkan, calonnya pun tak ada. Di usia-usia ini, ada banyak orang yang sudah melanglang buana mengelilingi dunia, tetapi tidak sedikit pula orang yang bertahan memberikan tabungannya untuk sekadar bisa makan keluarganya. Tapi, apakah memang kehidupan menjadi sebuah ajang perbandingan dan perlombaan? 

Tentu aku tidak munafik pernah merasa stres akibat beragam pertanyaan "kapan" dan "kenapa" dari mulut-mulut yang terlalu ramah itu. Itulah mengapa kalimat dalam konten tersebut seakan menjadi "penghibur" dan "penenang" bagi orang-orang yang merasa "telat" mencapai mimpi—jika dibandingkan dengan orang lain. Toh, tidak mengapa di usia segini baru bisa main bebas; toh, tidak masalah baru menikmati hidup di usia segini dan menikmati sedikit hasil jerih payahnya sekarang untuk bersenang-senang; toh, tidak apa-apa jika belum mencapai mimpi-mimpi itu; toh, tidaklah buruk menikmati hidup seperti masa remaja di usia 30 tahun; toh, usia hanyalah angka~ Kalau kata Tulus, menikmati hidup memulai masa remaja yakni seperti saat "kita masih sebebas itu, rasa takut yang tak pernah mengganggu"~

Tentu saja, konten yang sempat ramai berseliweran di lini masa media sosial ini membuatku setuju dan merasa ada "teman". Tapi kemudian perlahan aku bertanya-tanya: bukankah dalam Islam tidak ada fase remaja, ya? Karena saat aku membaca beberapa tulisan yang membahas hal ini, di dalam Islam hanya muncul istilah syabab—setelah masa aulad atau anak-anakatau fase pemuda (atau dewasa awal) yang masuk di kisaran usia 15 hingga 40 tahun. Di masa usia 15 tahun ini biasanya seseorang masuk dalam kategori mukallaf, terkena kewajiban menjalankan ajaran-ajaran Islam, alias sudah baligh. Yang itu artinya, kalau menurut Dr. Adian Husaini, seseorang yang sudah masuk di fase ini adalah ia yang imannya sudah harus benar, ibadahnya sudah benar, adabnya sudah benar, mengajinya sudah benar, jiwa dan pemikirannya sudah mantap dan benar.
Ah, mungkin aku terlalu menanggapi serius dari sebuah konten yang sekadar hiburan dan penenang ini.

Perlahan kemudian aku sadar, pertanyaan “kapan” dan “kenapa” itu tiba-tiba berhenti dari mulut mereka ketika objek yang ditanyanya tiba-tiba mengalami musibah. Entah karena kasihan, prihatin, ikut berduka, atau tidak ada hal lagi yang dirasa cocok untuk ditanyakan. Rasa-rasanya, musibah bisa menjadi anugerah untuk terhindar dari dera tanya dan hakim mereka. Toh, jangankan untuk “berlomba” dan berjuang mengejar mimpi, untuk sekadar bisa bertahan dalam situasi sulit secara baik pun adalah sebuah usaha berat nan susah-payah. Kalau kata film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, “Yang berat dari berduka itu hidup harus berjalan terus, kan? Padahal, kitanya lagi gak mau jalan.” 

Rasa-rasanya, musibah juga bisa membuka paham dan legowo lebih luas. Misalnya, saat kita sudah berjuang mendapatkan mimpi A, lalu kemudian yang sudah didapatkan itu tiba-tiba hilang dan diambil kembali oleh-Nya dengan cara yang pedih, akhirnya, sambil memulihkan diri (yang susah payah ini), kita lebih berhati-hati dan memberi batas toleransi terhadap mimpi-mimpi kita selanjutnya. Di saat orang-orang berjuang mendapatkan mimpi A, kita sudah pernah mengalami pahit dan perihnya hal itu sehingga kita sudah tidak lagi menggebu-gebu untuk mendapatkan kembali mimpi A (ataupun hal-hal lain). Kita mungkin bisa menjadi lebih berhati-hati atau bahkan belum sepenuhnya percaya, hingga akhirnya perlahan menikmati hidup yang begini-begini aja dengan jauh lebih waspada. Dan legowo. Dan bersyukur. Dan bersedih. Dan (mungkin) memulai masa remaja di usia yang sebenarnya masih muda~

Pada akhirnya, adakah istilah telat ini dan telat itu dalam lajur kehidupan kita? Apakah menikah di usia 30 tahun adalah telat, sedangkan menikah di usia 23 tahun adalah cepat? Padahal, bisa jadi yang menikah di usia 23 tahun itu ternyata (ditakdirkan) sudah menjadi janda ataupun duda di usia 25 tahun. Jadi, telat dan cepat menurut siapa? Bukankah begitu pula dengan karier, dengan memiliki anak, dengan banyak hal lain yang sebenarnya bukan kuasa kita sepenuhnya? 

Pada akhirnya, tidak perlu memulai menjadi (di fase) remaja, atau istilah apa pun itu, mari melanjutkan hidup yang sudah ditentukan garisnya ini, dan semoga kita yang sedang menjalani umur segini adalah kita yang bisa menjalani dan menikmati hidup dengan lebih bijak dan enjoy, menjalani hidup dengan banyak belajar, menjalani hidup dengan iman yang makin teguh. 

Lalu, bagi kamu yang juga sedang berada di fase bingung sepertiku: mempertanyakan bahkan menggugat banyak hal; kesulitan melihat batas hitam dan putih; menantang banyak orang; mempertanyakan atau bahkan tidak percaya pada suatu kelompok (orangnya, pengajarannya) yang sebelumnya dipercaya, atau pada seseorang, atau pada suatu aturan; menabrak atau merombak batas; dan lain-lain; dan lain-lain, semoga di tahun ini perlahan menemukan jawabannya, pelan-pelan menemukan “kebenaran”nya. Dengan arahan-Nya, dengan bantuan dan ilmu-Nya. Semoga pertentangan dan pertanyaan yang aku (dan mungkin kamu) lontarkan ini adalah khilaf yang dimaafkan oleh-Nya, juga proses menjadi lebih baik yang diridai-Nya.

Semoga kita adalah orang-orang yang tidak mudah berpuas diri dalam belajar, dalam mencari ilmu yang benar.

Terakhir, kamu boleh tidak sependapat denganku. 
Ini hanyalah tulisan curcol pertama di tahun 2024. Cheers

(image by Rubenstein Rebello on Canva Studio) Akhir-akhir ini, jagat media sosial diriuhkan dengan kabar kabut asap di bumi Lancang Kuning, ...

(image by Rubenstein Rebello on Canva Studio)


Akhir-akhir ini, jagat media sosial diriuhkan dengan kabar kabut asap di bumi Lancang Kuning, Melayu Riau. Kualitas udara di Provinsi Riau telah dinyatakan oleh BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) berada di level tidak sehat hingga bahaya. Seluruh masyarakat mendadak memakai masker demi terjaga dari menghirup udara berbahaya—meski hal itu hanya meminimalisasi akibat. Jarak pandang pun semakin menurun. Apakah semua hal ini merupakan kasus baru? Tentu saja tidak!

Saya begitu ingat ketika tahun 2014 lalu, keluarga saya di Pekanbaru mengabarkan kondisi udara yang mengejutkan. Asap begitu pekat menyelimuti kota, udara begitu sesak dan perih di mata. Saat itu, seluruh siswa sekolah diliburkan hingga hampir dua bulan lamanya. Berita yang sedang ramai diperbincangkan saat ini, bukanlah baru saja terjadi lagi di Provinsi Riau. Pada tahun-tahun sebelumnya, kabut asap masih ‘bermain’ meski tak begitu nakal mengganggu kehidupan warga.

Hampir seminggu yang lalu, mama memberi kabar kualitas udara di Riau mulai memburuk dan asap mulai kembali datang. Secara berkala, saya cek kondisi udara melalui aplikasi air visual yang menunjukkan angka 300-400 bermakna sangat tidak sehat hingga berbahaya. Kian hari, kualitas udara semakin memburuk hingga menembus angka 500! Sangat mengkhawatirkan. Akhirnya pada tanggal 9 September lalu, Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Riau mulai menginstruksikan kepada seluruh kepala sekolah untuk meliburkan siswanya.

Saya begitu geram dan sedih mengetahui kabar buruk ini. Kemarin, saat banyak daerah di Pulau Jawa yang mengalami mati listrik seharian dan saat kualitas udara di Jakarta masuk dalam level ‘tidak sehat’, masyarakat Indonesia dan media massa berbondong-bondong menggiring kabar hingga masuk dalam trending topic yang paling hangat dibicarakan. Namun, hari pertama saat saya mulai mengetahui kondisi udara di Provinsi Riau, hanya ada satu-dua media daring yang memberitakan kabar ini. Padahal saat itu, saya sedang berusaha mencari kabar terkait respons pemerintah menanggapi kasus kabut asap. Namun hasilnya? Nihil. Kabar kabut asap yang terjadi di Riau (dan Kalimantan) baru hangat diperbincangkan dua hari yang lalu, itu pun diperkuat dengan aksi demo mahasiswa Riau—yang mungkin menjadi lebih menarik saat dikabarkan terdapat dua mahasiswa yang pingsan saat demo di tengah kabut asap. Kemarin, muncul pula petisi yang ditujukan kepada Presiden, Menteri Kementrian Hidup dan Kehutanan (KLHK), Menteri Pertanian, Menteri Kesehatan, dan Gubernur Riau. Petisi tersebut menuntut empat poin terkait kasus kabut asap yang terjadi di Riau.

Ada hal yang membuat kami bertambah sedih. Pemberitaan kabut asap mulai tenggelam diberitakan oleh para media daring. Nampaknya, kasus KPK jauh lebih hangat, renyah, dan keren dibicarakan. Saat gubernur Riau dikabarkan justru pergi ke Thailand, presiden Indonesia pun terlihat belum banyak angkat bicara terkait solusi yang ditawarkan. Atau, apakah media yang memang begitu fokus menayangkan kesibukan pemerintah negara terkait revisi Undang-Undang KPK atau terkait KPK yang ganti pimpinan? Bagaimana kabar masyarakat yang terkena dampak darurat asap, apakah harus menunggu lebih banyak korban?

Selama kurun waktu tahun 2019 (Januari-September), sebanyak 281.626 warga terkena Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) berdasarkan data yang diambil oleh Dinas Kesehatan Riau. Tentu, tak mustahil akan menambah lebih banyak korban karena Riau disebutkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi daerah dengan kebakaran gambut terbesar pada tahun ini. Tak tanggung-tanggung, lahan gambut yang terbakar (dan dibakar) mencapai 40 ribu hektare. Ditambah sedang musim kemarau panjang, akan sangat sulit memadamkan titik api yang begitu luas. Terlebih, kebakaran hutan yang terjadi di lahan lambut memiliki karakteristik yang berbeda dari kebakaran hutan di lahan kering. Meski api dipadamkan dan tanah bagian atas sudah kering, bagian bawah lahan gambut tersebut relatif masih basah dan lembap. Jika terjadi kebakaran hutan, kobaran api tersebut akan bercampur dengan uap air di dalam gambut dan menghasilkan asap yang sangat banyak (Adinugroho dkk. dalam Pinem, 2016: 142).

Kabut asap terjadi tentu karena ada pembakaran lahan besar-besaran. Merujuk pada tagar yang digaungkan oleh masyarakat Riau, #RiauDibakarBukanTerbakar semestinya menjadi bahan evaluasi bagi seluruh jajaran aparatur negara. Aparatur negara memang perlu lebih ‘galak’ dengan para korporasi pemilik lahan dan lebih tegas memberlakukan hukum.

Jika saja ibu pertiwi mampu menunjukkan tangisnya, kini ia tengah merintih sakit dan menangis lirih terhadap semua keserakahan manusianya. Jika saja ibu pertiwi mampu bersuara, dengan sedih ia tentu berkata, “Riauku tersayang, Riauku yang malang. Bahasa indukku berasal dari daerahmu. Tempatmu menjadi pusat perkembangan budaya dan sastra Melayu. Kota bertuah, kini berisi asap penuh melimpah. Semoga yang sesak dan pekat berganti segera menjadi sehat dan kuat.”

Semoga, perlahan Allah bereskan semua masalah dalam negeri, menjadi negeri berdikari yang diberkahi, aman, lagi tenteram.

(Ditulis Sabtu, 14 September 2019)

___________________________

Referensi:

Pinem, Tanda. 2016. Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut: Kajian Teologi Ekofeminisme. Gema Teologika Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian. 1. 139. 10.21460/gema.2016.12.219.

Petisi https://www.change.org/p/gubernur-riau-jokowi-tunaikan-janji-mu-untuk-hentikan-asap-di-riau

http://riaupos.co/208352-berita-sudah-281626-warga-riau-terkena-ispa.html

(image by Porapak Apichodilok on Canva Studio) Di antara sekian banyak orang mendefinisikan kata ‘bahagia’, hanya satu makna bahagia secara ...

(image by Porapak Apichodilok on Canva Studio)

Di antara sekian banyak orang mendefinisikan kata ‘bahagia’, hanya satu makna bahagia secara abadi; ia langgeng menghias hati di dunia, terpuas diri di surga. Kamus Besar Bahasa Indonesia pun berkata, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Maka tentu, bahagia tak hanya diukur dari materi dan semua yang tampak; ia dirasa dari hati, diberikan oleh yang memiliki.

Jika bahagia adalah kekayaan, berapa banyak orang yang memiliki mobil, tapi sang istri justru tiap hari berada di samping sopir, sedangkan suami tak membersamai? Jika bahagia adalah rumah mewah, berapa banyak orang yang terbaring sakit bukan di kamar indahnya? Jika bahagia adalah kepintaran, berapa banyak orang pintar yang justru masuk sel jeruji penjara?

Jadi, bagaimana bahagia bekerja?

Kalau saya ditanya, ‘bagaimana agar kamu bisa bahagia?’, maka saya menjawab: Ya dengan berbahagia!

Dua kunci yang telah Allah berikan pada semua hamba-Nya tentang menjalani hidup adalah sabar dan syukur. Keduanya adalah paket lengkap yang patut dipegang dan dimiliki oleh semua Muslim. Di dunia ini, Allah hanya memberi kita satu keadaan, yakni ujian. Ujian-ujian tersebut diberikan dalam bentuk kesenangan dan kesusahan. Tinggal kita menjalani ujian tersebut dengan baik, berhasil atau gagal?

Menjadi yang paling bahagia adalah menjadi orang yang disebut baginda Rasul sebagai Mukmin yang urusannya begitu mengagumkan. Semua perkara dalam hidupnya adalah kebaikan untuknya. Keadaan senang menjadi baik baginya, keadaan susah pun menjadi baik baginya. Bagaimana cara mendapatkannya?

“…dan tidaklah didapatkan pada seorang pun hal tersebut melainkan pada diri seorang mukmin, jika ia merasakan kesenangan maka ia bersyukur, dan itu lebih baik baginya. Bila kesusahan menerpanya maka ia bersabar, dan itu lebih baik baginya.” (HR Muslim)

Lalu, bagaimana sabar dan syukur dapat bekerja?

Ia hadir dari hati yang rida terhadap ketentuan Allah. Yakinnya kokoh pada Sang Pencipta; pengatur segala urusan. Aktivitasnya adalah ibadah sebagai hamba. Cintanya terpaut pada Sang Pemilik Semesta. Dirinya adalah milik Tuhannya. Maka satu-satunya yang ia cari adalah rida Tuhannya.

Wahai kamu, berbahagialah dengan bahagia!

Istilah Gen M dipopulerkan oleh Yuswohadi dan kawan-kawan dalam tulisannya berjudul  Gen M: Generation Muslim, Islam itu Keren . Meski bagi ...



Istilah Gen M dipopulerkan oleh Yuswohadi dan kawan-kawan dalam tulisannya berjudul Gen M: Generation Muslim, Islam itu Keren. Meski bagi sebagian yang lain, Gen M juga dapat dimaknai sebagai Generasi Milenium (milenium, bukan milenial. Milenium adalah kata baku dari milenial. Hehe). Saya sendiri tahu istilah Gen M bermakna Generasi Muslim baru akhir-akhir ini –bahkan lebih tahu secara jelas saat ikut talkshow Crown yang diadakan oleh kemuslimahan Unpad kemarin.

Gen M memiliki karakteristik yang telah ditulis dan dijabarkan oleh banyak penulis; temasuk dikaitkan dengan sejarah dan kondisi islam di Indonesia sejak zaman dahulu kala. Namun, di antara sekian banyak definisi terkait Gen M, saya memiliki simpulan sendiri yang tak sedikit saya dapatkan dari acara talkshow kemarin (ngomong-ngomong, pematerinya adalah Nabila hayatina, Karina Hakman, dan dr. Davrina). Generasi Muslim adalah orang-orang yang taat pada Allah dengan menggunakan landasan Quran dan Sunnah, pun meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai manusia terbaik sepanjang zaman. Sesimpel itu? Ya! Dengan segala perkembangan zaman beserta perangkat teknologi yang semakin canggih, generasi muslim mampu masuk dalam perkembangan zaman sebagai pengguna dan pengendali; pionir bukan pengikut. Tentu tak lain sebagai tugas utama di bumi yakni khalifah dan memiliki korelasi yang erat dengan islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Terus selanjutnya, apa yang harus kita lakukan?

Islam mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan; baik hidup di dunia maupun hidup di akhirat. Dunia dan akhirat adalah anugerah dari Allah, pun keduanya adalah mutlak milik Allah. Dalam aplikasinya, islam tidak mengajarkan selama 24 jam kita harus berdiam diri di masjid, tilawah dan salat tiada henti. Bukan. Kita justru dituntut untuk punya prestasi, gengs! Prestasi apa? Prestasi dalam bentuk amalan shalih yang bermanfaat untuk orang banyak, dijalankan secara profesional, dan berkah. Amalan apa? Amalan apa pun! Amalan yang diwujudkan dalam kemampuan-kemampuan kita di bidang yang kita sukai. Amalan yang dihasilkan dari ilmu-ilmu yang kita pelajari selama sekolah dan kuliah. Amalan-amalan inilah yang sangat bersesuaian dengan sabda Rasul, bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Berprestasi dengan bermanfaat, tentunya dapat diawali dari hal kecil sekali pun. Hal-hal kecil yang dilakukan ikhlas dan terus-menerus, hasilnya akan terkumpul meninggi hingga melangit. Di bumi ia dicintai, di langit ia dijunjung tinggi. Keren banget, kan! Tapi ternyata gengs, ada juga prestasi dengan amalan-amalan yang bisa terputus dari rahmat Allah. Prestasi tersebut tidak membawa berkah atau kebaikan yang berlipat-lipat bahkan untuk dirinya sendiri. Mengapa? Karena amalan yang dilakukan tersebut terputus dari niat karena Allah. Amalan tersebut tidak menyertakan Allah saat melakukannya. Makanya, mulai saat ini, saat hendak melakukan apa pun dalam aktivitas kita, sertakan “bismillah” dan niat “cukup buat Allah aja”. Dunia milik Allah, kita milik Allah, dan kita kembali pada Allah. Dengan begitu, segala aktivitas kita akan menjadi ibadah untuk kita!

Maka Gen M sebagai muslim di zaman milenium, adalah mereka yang berdiri, berjalan, hingga berlari menjejakkan kaki di bumi dengan iman di hati, berprestasi menebar manfaat dari ujung hingga tepi. Mereka yang berperan dalam peradaban sebagai generasi rabbani.