(Image by Nugroho Wahyu on Pexels) Kutatap dalam-dalam cermin besar yang ada di depanku kini. Cermin ini sengaja kutaruh di sudut ruangan, k...

Becermin pada Setengah dan Seperempat

(Image by Nugroho Wahyu on Pexels)

Kutatap dalam-dalam cermin besar yang ada di depanku kini. Cermin ini sengaja kutaruh di sudut ruangan, kusembunyikan ia dari hiruk-pikuk beragam benda. Kuberikan porsi khusus sebagai yang teristimewa. Ia yang paling jujur berbicara, ia yang paling jujur mendengar, ia yang paling jujur memantulkan dan mendeksripsikan. 


Ada seorang perempuan kecil tengah berdiri menatapku juga di sana. Aku tersenyum. Ia juga tersenyum meski dengan raut wajah yang berantakan. Kami sama-sama tersenyum meski dengan beragam jenis tatapan yang sulit dideskripsikan. Nanar. Sendu. Sayu. Bahkan kosong. 


"Bagaimana kabarmu?" kutanya kalimat yang dianggap basa-basi oleh sebagian orang ini dengan sungguh-sungguh. Bagiku, ini menjadi pertanyaan sangat penting dan harus kulontarkan. Aku tak sabar mendengar jawabannya. 


"Baik dan tidak baik," ia kembali tersenyum dengan wajah pucat. Perempuan ini ingin mengabarkan dirinya sedang tidak baik, tetapi masih bisa ia lalui dengan baik, atau setidaknya, masih waras hingga hari ini. 


Tak butuh waktu lama, kami menitikkan air mata. Kantong mata yang makin besar dan hitam itu mungkin siap menjadi saksinya. Lama-lama, kami menangis hingga sesenggukan. Lama sekali. 

***

Pada yang setengah dari yang berjumlah 365,


Kudapati ia sedang terseok-seok berjalan di bulan April. Tubuhnya telah berlumuran darah. Ia pernah tertawan dengan banyak hunusan pedang. Punggungnya pun bahkan telah ditusuk dari orang yang tak terduga secara tiba-tiba hingga terjatuh dan tak bisa melawan.

 

April hingga Mei ia bertahan. Meski luka di sekujur tubuhnya belum kering dan masih menganga lebar, ia perlahan bisa berjalan pelan. Beragam obat dan resep telah ia coba. Bermacam rapalan doa selalu terlantun dari mulutnya. Kulihat ia masih bisa menaburkan banyak cinta dan harapan. Meski hatinya sempat terluka, ia masih dengan telaten memberikan perban. Hatinya masih mekar. Hatinya tidak layu. Kulihat ia sungguh-sungguh berjuang. Meski sendirian.

 

Aku terkejut pada waktu-waktu setelahnya. Pada Juni dan seterusnya, kulihat ia nyaris pingsan akibat menahan beragam sakit yang tak tertahan. Luka yang tak kunjung kering kembali ditebas oleh rangkaian kejadian pahit yang dialaminya. Darah makin deras mengalir. Berjalan pun ia tak sanggup. Ia terjatuh. Lagi. Kali ini lebih lama.


Dalam kondisi seperti ini, aku berlari menggapai tubuhnya segera, memeluk erat meski dengan hati-hati karena tubuh dan hatinya sedang sangat rapuh. Hatinya mulai layu dan mengering hingga pecah berkeping-keping. Kuelus-elus punggungnya yang pernah ditusuk itu. Kubelai ia, kukasihani ia, kusemangati ia. Walau sulit, aku memapahnya kembali berdiri untuk kembali belajar berjalan secara pelan-pelan sambil tertatih.

***

Pada yang seperempat dari yang berjumlah 100,

 

Aku melihatnya tumbuh dengan cepat dalam angka satu hingga dua puluh lima. Ia ditakdirkan lahir yang pertama sebelum yang lain. Ia yang mendapat kesempatan lebih dulu terbang mencari ilmu dan pengalaman, yang syukurnya, dapat dukungan dan kepercayaan penuh dari kedua mutiaranya.


Sejak kecil, ia sudah banyak dihadapkan oleh pilihan turunan. Beragam memori manis-pahit berputar dalam kepala. Ia juga ikut serta dalam fase-fase transisi kedua mutiaranya, fase jatuh-jatuh-jatuh berkali-kali. Fase terberani penuh konsekuensi yang dicontohkan langsung oleh kedua mutiaranya, sang figur terbaik dalam hidupnya. Ia banyak belajar. Sungguh ia banyak belajar. Tanpa sadar, sejak dulu ia telah dilatih untuk tahan banting menghadapi dunia.

 

Ia belajar untuk hidup sendiri sejak sekolah. Ia dipaksa oleh kehidupan untuk terus menggali banyak ilmu dan hikmah, berdiri di kaki sendiri, jatuh dan bangkit lagi. Tentu saja, selama dalam waktu dua puluh lima, kulihat ada banyak bekas luka padanya, tetapi ia cukup berhasil menyembuhkannya pelan-pelan. Kukatakan padanya, sekalipun luka kali ini adalah salah satu luka terperih dalam hidup, aku yakin ia akan mampu menerima dan mengobatinya perlahan meski tak ada waktu yang pasti hingga kapan pulih bisa ia dapati dengan penuh.


Kukatakan dengan sungguh-sungguh bahwa aku begitu bangga padanya. Aku tahu ia pernah mengalami banyak ketakutan dan kejadian traumatis, tetapi akhirnya bisa ia taklukkan hingga memberikan hasil yang baik. Kukatakan padanya bahwa aku begitu sayang, bahwa ada banyak sekali orang yang juga sayang dan berkenan memberikan doa-doa tulus mereka. Kuyakinkan hatinya bahwa doa dari mereka sungguh sangat membantunya dalam pemulihan. Aku menguatkannya bahwa kami masih punya Allah Sang Pemilik Kekuatan, Sang Penyembuh, yang Maha Pengasih dan Penyayang. 


Aku memeluknya lebih erat. 

Kami berangkulan.

Kami menangis lama untuk sabar dan syukur yang kami punya. 

Kami tersedu sedan.

Kami saling bergenggaman.

Lalu melangitkan doa

agar Dia senantiasa membalut hati kami dengan iman

agar Dia tetap menjadi tumpuan penuh harapan.


Hai Ikfi, aku mencintaimu. Sungguh. 

***

Ya Allah, tolong jadikan ini sebagai bentuk kasih sayang-Mu padaku, sebagai jalan terbaik mengajariku, sebagai jembatan penyelamat untukku. 

    

0 comments: