Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

(image by bizoo_n on Canva Studio) Pelayaran selanjutnya dimulai. Perjalanan kali ini rasanya terasa lebih lama. Dan lagi, mereka berdua aka...

(image by bizoo_n on Canva Studio)

Pelayaran selanjutnya dimulai. Perjalanan kali ini rasanya terasa lebih lama. Dan lagi, mereka berdua akan memasuki wilayah yang cukup luas, tentu dengan arus gelombang yang tiba-tiba derunya bisa bergemuruh sangat kuat atau dengan kehadiran angin badai yang tiba-tiba menerjang perahu kecil mereka dengan sangat hebat.
 
Kapten dan Awak Kapal berjaga. Dengan perbekalan yang ada di tangan, Kapten Kapal mengikuti peta dan catatan sebagai sarana navigasi jalan; memandu ke mana arah perahu akan berlayar. Dengan tangan kecilnya, Awak Kapal ikut mendayung perahu dengan kuat. Layar perahu yang terbentang masih sering dicek silih berganti oleh keduanya, untuk berjaga-jaga kalau ada bagian yang berlubang dan perlu ditambal. 

Perahu berlayar. Kadang-kadang pelan sambil menikmati laut tenang dan pemandangan yang ada di hadapannya, kadang-kadang pula kencang didorong angin dengan sangat kuat. Kadang-kadang harus tiba-tiba mengubah kemudi karena ada terumbu karang yang besar di depan. Pada siang hari, terik matahari bisa saja begitu menyengat tubuh, sedangkan pada malamnya, dingin menusuk tulang hingga menggigil. Bahkan, ada pula saat matahari sedang memancarkan panas dan sinarnya begitu terang, tiba-tiba berubah diganti dengan awan hitam disertai petir yang menyambar. Bukankah memang begitu pelayaran kehidupan? Bukankah memang bahtera ini tidak luput dari suka-duka perjalanan?

Tak lama, perahu mulai memasuki wilayah besar sebagai tujuan berikutnya. Awak Kapal paham akan ada banyak pelajaran baru dari pelayaran ini. Ia tahu akan perlu adaptasi baru untuk menjalaninya. Ia tahu bahwa kapal ini juga adalah tanggung jawabnya, mengikuti arahan dari Kapten. Meski begitu, ia juga tetap bersiap siaga untuk menghalau dan mengingatkan Kapten jika perahu memasuki zona bahaya; untuk berjaga agar tidak ada perompak datang dan tidak tenggelam.

Namun, Awak Kapal terkejut melihat sinyal yang cukup berbeda dari wilayah perairannya kini. Ia terkejut melihat beberapa monster laut yang berjaga di batas teritorial. Monster laut itu membuat peraturan bahwa siapa pun yang masuk ke zona ini, haruslah mengikuti aturan yang berlaku—sesuai keinginan mereka. Beberapa kali monster laut ikut mengusik kemudi, yang turut diikuti oleh sang Kapten. Awak Kapal kembali membuka peta dan catatan navigasi, lalu bergumam, "Ini tidak sesuai dengan yang tertulis, tidak sesuai dengan kesepakatan bersama." 

Beberapa dari yang berjaga di batas teritorial terus berteriak dan memaksa, "Perahu kalian harus merapat masuk dengan kapal induk!" Beberapa ada yang berseru, "Harusnya begini, bukan begitu!" 

Awak Kapal kemudian bingung: Bukankah setiap perahu memiliki kedaulatan yang penuh untuk menentukan tujuan pelayarannya? Bukankah setiap yang berlayar punya hak untuk merasa aman dan nyaman? Bukankah dengan mendayung berdua bersama dan mengambil jalan bersama, bukan berarti melanggar aturan yang dibuat oleh makhluk? Bukankah ada banyak jalan menuju Roma? Bukankah dengan telah memutuskan berlayar bersama di perahu ini, juga telah memutuskan untuk mandiri dan saling?

Setelah membaca situasi, Awak Kapal bertanya dan mengajak berdiskusi. Ia bersedia mendengar apa-apa yang akan terlontar dari mulut kaptennya. Namun, beberapa kali ia mencoba, sang Kapten tetap bergeming. 

Tak lama, semua yang berjaga di teritorial ikut masuk dalam perahu. Mereka mengalihkan kemudi. Tiap-tiap dari mereka kini membawa pedang untuk menawan Awak Kapal. Awal Kapal sungguh ketakutan dan hendak meminta bantuan dan perlindungan dari sang Kapten, tetapi Kapten justru ikut mengeluarkan pedangnya. Kini Awak Kapal tertawan.

Ombak besar terus menghadang perahu kecil yang belum sempurna itu. Hujan mengguyur laut begitu deras, disertai kilat dan petir yang menyambar. Layar perahu yang terbentang kini mulai robek. Perahu kian lama kian mendekati terumbu karang besar yang sudah diwanti-wanti sejak awal. Tak butuh waktu lama, perahu kecil itu menabraknya. Kayu-kayu perahu yang masih perlu dihampelas dan ditambal sana-sini tidak kuat dihantam gelombang dan terumbu karang. Perlahan, air laut mulai masuk dan menggenangi perahu.

Awak Kapal mencari dayung yang selama ini digunakan untuk membantunya berlayar, tetapi hilang entah ke mana. Semua yang memegang pedang mulai memaksa Awak Kapal untuk keluar dari perahu, tetapi dihunusnya lebih dulu. Luka-luka yang ada pada tubuh Awak Kapal semakin perih terasa saat terkena air hujan yang mengguyur deras serta terkena air laut yang asin akibat cipratan ombak dan yang perlahan menggenang di kapal. 

Kapal induk kian mendekat. Mereka pergi ke sana dan membiarkan Awak Kapal bersama perahu kecilnya yang kian lama akan tenggelam. Lalu karam. 



Sambil terus bertahan agar tidak tenggelam, Awak Kapal mengerahkan kemampuan berenangnya dengan sekuat tenaga. Kini ia perlu bertahan sebentar, berenang dengan mengarungi lautan yang ganas untuk mencari dan kembali ke perahunya sendiri. Selama itu pula, ia bertanya-tanya,
Burukkah ia dalam mendayung sampan? Bersalahkah ia dalam meminta hak yang benar? Tak layakkah ia diperjuangkan dan diselamatkan? Tak ada waktu dan kesempatankah ia untuk sama-sama belajar? Atau, apakah sang Kapten telah memiliki awak kapal baru sebagai pengganti dirinya? 

Tanpa mereka sadari, selain menjadi sebuah pembelajaran berharga untuk Awak Kapal, kejadian ini membuat sang Awak Kapal takut, takut sekali, untuk mengarungi kembali lautan dengan orang lain dalam satu perahu. Kepercayaannya hilang, pada orang lain dan dirinya sendiri. 

(image by Elja on Canva Studio) Pada tahun dengan angka kembar per dua digit, perahu ( atau kita sebut saja kapal ) yang masih kecil dan rin...


(image by Elja on Canva Studio)


Pada tahun dengan angka kembar per dua digit, perahu (atau kita sebut saja kapal) yang masih kecil dan ringkih mulai berlayar pelan-pelan ke tengah lautan. Dengan perbekalan yang sedikit, Kapten Kapal dengan percaya diri memimpin kendali untuk berlayar dengan tujuan awal berjarak kurang lebih enam ratus enam puluh tujuh kilometer dari pusat ibu kota negara. Dia mulai belajar mengenali kondisi angin, mengecek layar yang terbentang, meneropong segala kemungkinan, berjaga dengan badai, dan sering pula (bersama-sama) berusaha untuk mendayung sampan lebih kuat agar perahu tetap berjalan.

Sementara itu, sang Awak Kapal mulai mengenali kondisi. Dia tahu bahwa awal perjalanan ini akan sangat membutuhkan juang yang hebat, badan yang sehat, dan mental yang kuat. Dia tahu bahwa akan ada bagian-bagian penting yang membutuhkan dirinya untuk memegang kendali, memastikan (mencari dan menyiapkan) segala kebutuhan hidup agar terpenuhi. Ada saat Awak Kapal terpaksa bertukar peran untuk mengambil alih, tetapi dia jalani dengan senang hati. Bukankah sang Kapten dan Awak Kapal telah saling percaya dan berjanji?

Saat perahu bersandar di dermaga pulau yang dituju, Kapten Kapal menunaikan hajatnya untuk mencari bekal—materi dari para guru, di gedung tinggi, dengan seragam rapi dan berdasi. Ada kalanya, Kapten dan Awak Kapal menyisir hutan untuk mencari daun-daun yang bisa dilahap dan menjadi energi tubuh. Setidaknya, cukup untuk bisa menjadi energi tubuh–meski tak hanya sekali, keduanya pernah hingga keracunan. Kondisi ruang beristirahat pun tak lagi menjadi masalah bagi Awak Kapal meski dalam beberapa situasi, kayu-kayu kapal mulai lapuk akibat sengatan matahari dan deburan ombak yang tinggi, air laut mulai menggenangi perahu, hawa dingin dan panas silih berganti.

Dalam masa yang tak sebentar, Kapten dan Awak Kapal bertemu banyak sekali kapal lain yang bersandar di dermaga. Beragam jenis kapal ditemukan oleh mereka, mulai dari perahu yang sederhana hingga yang sudah besar. Beruntungnya, Kapten dan Awak Kapal mendapat banyak sekali "bantuan" dari para tetangga kapal. Mereka berdua lemah, tetapi mau berjuang, kemudian Tuhannya memberikan bantuan. Namun, jika mereka berdua lemah, tetapi hanya salah satu yang mau berjuang, bagaimana mereka mendapatkan bantuan, kecuali gangguan?

Satu setengah tahun mereka habiskan untuk belajar dan beradaptasi. Dalam kondisi yang serbakurang, keduanya optimis mendapat bekal yang cukup. Kapten dan Awak Kapal pun bergegas berlayar kembali. Peta telah di tangan, kompas telah dipasang, dan buku catatan berisi tujuan atas diskusi dan persetujuan keduanya telah rampung ditulis. Kalau begitu, Kapten melihat situasi, Awak Kapal juga ikut berjaga dan memantau sekitar. Jika ada ombak atau badai yang berbahaya, keduanya perlu saling menjaga. Jika ada perahu perompak yang mau menyerang, keduanya harus saling siap mengadang. Bukankah itu sudah aturan alam?

Di pelayaran selanjutnya, gelombang lebih tinggi, gerimis hingga badai mulai datang. Lalu, yang tak disangka, di tengah pelayaran yang masih dalam kondisi lemah dan serbajuang, ada monster laut yang berjaga di batas teritorial.

(image by DimaBerkut on Canva Studio) Menjadi seorang putri sulung dari ketiga bersaudara cukup membuat beban bagi saya. Sebenarnya lebih te...

(image by DimaBerkut on Canva Studio)

Menjadi seorang putri sulung dari ketiga bersaudara cukup membuat beban bagi saya. Sebenarnya lebih tepatnya, Allah telah mempercayai amanah berat tersebut untuk saya sebagai contoh dari dua adik saya. Anak sulung adalah harapan pertama dari sepasang hamba-Nya yang Allah takdirkan bersatu dengan janji suci ikatan pernikahan. Anak sulung adalah buah kasih yang paling ditunggu kehadiran dua insan. Anak sulung adalah anak yang ditakdirkan lebih dahulu lahir dari adik yang lahir setelahnya.

Hakikatnya, semua anak memiliki hak dan kewajiban yang sama. Mereka memiliki fungsi dan peran masing-masing dalam sebuah keluarga. Pun sama halnya dengan anak kedua, ketiga, keempat, hingga anak bungsu. Mereka adalah mutiara yang Allah berikan kepada orang tua sebagai amanah, juga mereka memiliki amanah yang dipikul sama dari kedua orang tuanya.

Sejak kecil, ayah selalu mendukung dan membimbing anak-anaknya untuk bersungguh-sungguh mencari ilmu di sekolah. Prestasi-prestasi yang didapatkan dari anak-anaknya tidak lepas dari kesabaran dan keuletan sang ayah dalam membimbing dan ikut mengajarkan materi-materi khusus dalam perlombaan. Sang mama, memiliki peran penting sebagai penenang, peneduh, dan penyemangat anak-anaknya. Ketentraman yang dimiliki seorang ibu dan motivasi kuat yang ditanamkan oleh seorang ayah mampu membuat anak-anaknya mendapatkan dua hak yang seimbang dari kedua orang tuanya; tidak hanya pemenuhan kebutuhan materi, tapi juga pemenuhan kebutuhan batin.

Satu hal yang paling diingat sebagai motivasi terkuat hingga saat ini adalah tentang pemaknaan seorang Ikfi Nursyifa Arridla yang telah diberikan dengan penuh suka cita oleh kedua orang tua saya. Sejak saya TK (atau mungkin sebelum TK), ayah sudah memberi tahu arti tiap-tiap kata dari nama saya yang secara garis besar adalah sebuah doa agar Allah cukupkan saya dengan cahaya obat/syafa’at yang Alah ridai (baik untuk di dunia, maupun kelak di akhirat). Saat itu, ayah dengan nada penuh harap berkata, “Kamu itu Syifa. Jadilah obat hati untuk kedua orangtuamu.” Ayah juga pernah menambahkan, katanya, “Kamu adalah anak pertama yang diharapkan oleh ayah dan mama dan saat itu kamu menjadi pelipur lara kami. Tetaplah menjadi pelipur lara, penenang hati kami meski kamu sudah besar.” Sungguh, ucapannya berhasil terngiang-ngiang dalam kepala dan menjadi cambuk otomatis yang tiba-tiba hadir saat saya jatuh dan putus asa dalam perjalanan menuntut ilmu serta menjalani lika-liku jalan kehidupan. Sama halnya dengan sang ayah, seorang mama juga menaruh harapan bagi putri sulungnya ini. Meski ia tak mampu berkata-kata bijak seperti ayah, sentuhan lembut dan kasih sayangnya mampu menjangkau hati sang anak dan memeluk erat dengan doa yang begitu kuat. Satu hal yang cukup unik dari cerita mama saat mengandung saya dulu adalah ia sempat melihat seorang anak perempuan yang tampil di sebuah acara televisi dengan membawakan sebuah puisi yang begitu indah. Kata mama, anak perempuan tersebut bernama Syifa. Dari sana, mama ingin memiliki anak yang sepandai Syifa dalam membacakan sebuah puisi—dan qadarullah saat SD pernah beberapa kali menjuarai lomba baca puisi, dan saat ini saya dihantarkan oleh Allah ke sebuah perguruan tinggi untuk menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu sastra.

Saya begitu dekat dengan mama yang selalu menjadi tempat berbagi dalam banyak hal. Saya juga dekat dengan ayah dan selalu menjadi tempat diskusi banyak hal. Kami selalu bertukar pikiran dan perasaan–terlebih ketika saya mulai beranjak dewasa. Dalam sebuah diskusi keluarga saat saya masih kelas 3 SMP, timbul satu keinginan kedua orang tua untuk putri sulungnya: melanjutkan sekolah di Jawa Barat. Saat itu, atas izin Allah kami tinggal di Pekanbaru (meski berdarah Sunda) karena pekerjaan orang tua. Pada saat keinginan itu terucap, saya sempat berpikir banyak hal hingga akhirnya menyetujui keinginan mereka.

Tidak ada maksud buruk sedikit pun yang terlintas dari pikiran dan hati orang tua saat anaknya dikirimkan­ jauh menuntut ilmu dari jarak tinggal mereka. Saat itu, tidak ada yang terlintas dalam benak saya selain berbakti kepada orang tua dengan menuntut ilmu sekalipun harus jauh menyebrangi lautan melintasi banyak provinsi; terpisah di antara dua pulau. Setingkat usia kelas 3 SMP yang saat itu masih terbilang polos, saya memberanikan diri (atau nekad) terbang ke Jawa Barat sendirian. Saat itu, saya belum memiliki tujuan khusus akan sekolah SMA di mana (karena hasil tes di salah satu MA (Madrasah Aliyah) favorit se-Indonesia belum keluar). Dengan bermodal yakin dan pasrah, saya pergi ke tanah kelahiran dan tinggal sementara di rumah nenek. Lika-liku perjuangan mencari Sekolah Menengah Atas begitu sulit, terlebih saat saya dinyatakan tidak lulus pada hasil tes di salah satu MA favorit itu. Beberapa pesantren yang saya kunjungi juga tidak berhasil menjadi pilihan dan takdir untuk saya. Saat itu, saya pasrah. Saya ikhlaskan dan kembalikan semuanya pada Allah, saya atur ulang niat saya dengan harapan penuh bahwa saya akan mendapatkan banyak hikmah belajar di daerah ini. Qadarullah, saya akhirnya berjodoh dengan salah satu Madrasah Aliyah yang ternyata jaraknya tidak begitu jauh dari rumah nenek. Perjalanan dimulai. Petualangan dimulai. Hidup jauh dari orang tua dimulai. Manis-pahit kehidupan dimulai dengan beragam ujian dan tantangan yang menuntut saya mampu menyelesaikannya sendiri (tentu dengan melibatkan Allah). Saat itu, saya banyak menyelami lautan hikmah, termasuk tentang proses hijrah mengenal Allah lebih dekat (dari mulai pakaian, pemahaman, hingga ilmu keagamaan). Di sana, Allah kirimkan orang-orang yang sangat luar biasa sebagai perantara mengenali-Nya. Allah kirimkan orang-orang sebagai penguat, penasihat, dan pengingat di jalan-Nya. Hingga pada suatu waktu, saya menangis lirih -merindukan kedua orang tua- dan ingat perjuangan mereka. Terlebih saat itu, saya merekam jelas eskpresi seorang ibu saat melepaskan putri sulungnya pertama kali, jauh dari dekapannya…

Ma, aku tahu bahwa melepaskan putri sulung jauh darimu beribu-ribu kilometer adalah hal berat dalam hidupmu.

Aku ingat empat tahun lalu pukul empat dini hari, seorang bidadari berdiri tegar di depan pintu rumah dengan pipi basah dan mata berkaca-kaca. Mengecup, memeluk, dan mendoakan kebaikan anaknya.

Ma, aku tahu bahwa ketika putri sulungmu melangkah keluar pagar rumah untuk pergi, hatimu berteriak ingin menahan. Namun keyakinanmu yang penuh bahwa Allah Sang Maha Penjaga mengalahkan ego dan perasaanmu. Menitipkan putri sulungmu pada Allah dengan sebaik-baik penjagaan. Lalu aku melihat senyummu, tegarmu, dan ikhlasmu.

Ma, aku bisa merasakan doa-doa panjang yang selalu terlafal dari riak tangismu. Aku bisa mendengar betapa syahdunya doamu bergetar menembus langit. Kebaikan-kebaikan yang Allah berikan pada putri sulungmu tidak terlepas dari doa-doa tulusmu.

Ma, rida Allah sangat tergantung dari ridamu. Ada surga dalam dirimu, ada rumah dalam pundakmu, ada hangat dalam pelukmu, ada harapan dalam matamu. Mama, semestanya rindu.

Semoga Allah senantiasa menjagamu, memberkahi hidupmu.

Suka-duka dalam menjalani kehidupan—terlebih menuntut ilmu—membuat saya bersabar dan bersyukur. Bagi saya, perjuangan ini menjadi jalan bakti saya untuk kedua orang tua saya. Menuntut ilmu agar Allah berikan ilmu yang bermanfaat, menuntut ilmu agar Allah sematkan hidayah pada hati saya untuk menjadi hamba kecintaan-Nya, menuntut ilmu untuk meraih rida kedua orang tua saya, menuntut ilmu untuk mengangkat derajat kedua orang tua saya, menuntut ilmu untuk menjadi manusia bermanfaat, namun yang paling penting dari semua hal tersebut adalah menuntut ilmu karena perintah Allah; menyelami ilmu-ilmu Allah untuk meraih hakikat ilmu yang sesungguhnya, yakni mengenal Allah lebih dekat.

Dari perjalanan belajar ini, saya perlahan mulai memahami lebih dalam tentang pondasi utama seorang insan yakni iman dan Quran. Berbakti kepadamu wahai ayah dan mama, adalah tentang kesyukuran saya selaku anakmu atas hasil didik dan ridamu. Adalah tentang kesyukuran pada anugerah terindah yang Allah berikan berupa dirimu yang begitu sabar menjaga amanah-Nya. Maka izinkanlah saya beserta anak-anakmu yang lain untuk bisa memberikan hadiah terindah di akhirat kelak atas hasil iman dan kedekatan Quran yang tak lepas dari lantunan doa dan ridamu. Semoga Allah membantu kami..

Menghidupkan mimpi yang kian mendekat dan didekatkan. Aku melihat dua pasang mata yang ikut tersenyum dan menangis. Di sela air matanya yang jatuh, aku mendengar dengan telingaku yang sering tuli, ada bait-bait doa yang melangit meski raganya sujud menyentuh bumi. Tuhan.. tegakkanlah raganya hingga waktu kian menggerus sisa umur yang tersedia. Aku masih ingin melihat dua pasang mata itu tetap dan terus tersenyum, berkali-kali, bahkan selamanya.

Di kerumitan jalan dengan mataku yang sering buta, aku melihat ada dua insan yang berpayah-payah mempertahankan, memperbaiki jalan kehidupan. Menjagaku dengan sebenar-benar penjagaan, meski jarak antara raga kami berjauhan.

Dengan mulutku yang sering bisu, ada maaf dan terima kasih yang tak kunjung selesai terucapkan lewat doa yang disemogakan.

Maafkan atas ketulian, kebutaan, dan kebisuanku, tapi percayalah, ada hati yang selalu kurawat dan kuperbaiki setiap hari, langsung kepada Yang Menciptakan—dengan mimpi, harapan, prasangka baik, dan ayat-ayat-Nya. Menyiram, menghidupkan.

Semoga Allah senantiasa menghidupkan dan membersihkan hatiku, juga pemilik dua pasang mata yang indah itu,

Ikhlasmu, relamu, doamu, dan ridamu adalah bekal bagiku. Agar Allah pun rida..

Dan semoga dapat selalu menjadi penyejuk mata dan hatimu dari seorang aku. Seorang nama yang engkau beri dengan “obat” dan “rida”. Sehat terus, Ayah dan Mama.

 

Anakmu,

Ikfi Nursyifa Arridla.

 

(ditulis tahun 2017)